Jumat, 23 September 2011

JALUR JATENG, MENYEDIHKAN.

Hampir setiap bulan saya melakukan perjalanan antar provinsi.Antara Jogja- Jabar atau Jogja-Jatim.Di mana keduanya selalu melewati Jateng.Setidaknya sebagian dari wilayah Jateng.

Ke Cirebon misalnya, kalau saya berangkat dari Jogja melalui jalur selatan, saya akan masuk wilayah:Purworejo, Kebumen, Purwokerto, Cilacap, Banyumas, Brebes sampai akhirnya masuk wilayah Pantura(pantai utara pulau Jawa) atau masuk tol milik Bakri di Pejagan.

Begitu juga kalau dari Jogja menuju Cirebon melalui jalur utara.Saya melewati Magelang dan dipertigaan Secang jalurnya terpisah menjadi dua.Bisa ke arah:Temanggung, Kendal.Atau langsung ke arah Semarang.Untuk memperlancar perjalanan di Semarang juga ada jalan tol.Kedua jalur ini akan bertemu di wilayah Kabupaten Batang.Dan selanjutnya: Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes.Lagi-lagi kita dapat lurus memalui Pantura atau masuk tol milik Ketua Umum Golkar tersebut.

Saya memang sering ke Cirebon, bahkan sebulan bisa dua kali karena urusan bisnis.Cirebon dikenal sebagai kota industri di Jabar bagian paling timur.Wilayahnya yang strategis di sepanjang pantai utara membuat Cirebon maju dalam bidang perdagangan.

Di lain waktu saya harus melakukan perjalanan dari Jogja ke Jatim.Barangkali tidak sesering ke Cirebon.Kira-kira dua bulan sekali.Karena Jatim adalah tempat kelahiran saya.

Dari Jogja ke Jatim sebenarnya ada empat jalur.Paling selatan melalui: Gunung Kidul/Wonosari, Wonogiri, Ponorogo.Jalur ini jalannya menanjak dan menurun karena wilayah pegunungan.

Bisa juga dari Jogja memalui Klaten(wilayah selatan).Dan sampai di: Sukoharjo, Wonogiri.Atau dari Klaten ke arah; Solo, Sragen.Jalur ini paling banyak dilewati kendaraan karena memang jalur utama.Atau memalui Semarang, dan terbilang memutar ke utara.Memang lebih jauh namun sebenarnya bisa juga sampai di Jatim.

Yang menyedihkan sekaligus menjadi catatan saya adalah ketika memasuki wilayah Jateng, jalan aspal hampir semuanya rusak dan bergelombang.Di jalur selatan, dari Jogja ke Cirebon misalnya.Ketika kendaraan memasuki wilayah Purworwjo aspalnya tidak semulus wilayah Jogja.Banyak lobang dan bergelombang.Kondisi ini sampai di wilayah Brebes.

Juga ke arah utara, ketika masuk wilayah Sukorejo jalannya juga tidak rata dan berlobang.Belum lagi banyaknya tanjakan serta tikungan.

Menuju Jatim juga demikian.Di jalur selatan ketika memasuki Kabupaten: Sujoharjo, Wonogiri aspal jalan banyak yang terkelupas.Bahkan berlobang dan bergelombang.

Oleh karena itu saya bersama teman seperjalanan sering bertanya-tanya.Mengapa yang rusak rata-rata wilayah Jateng?Apakah anggaran untuk perbaikan jalan raya wilayah Jateng paling kecil?

Atau anggarannya lebih banyak difokuskan untuk pembangunan wilayah Pantura?

Jateng memang dilalui jalur Pantura dan dilewati kendaraan-kendaraan besar paling banyak.Angkutan industri menuju Jakarta atau sebaliknya, menuju Semarang dan Surabaya, paling ramai melalui jalur Pantura.Yang nota bene termasuk kawasan Jateng.

Barangkali hal ini yang menyebabkan wilayah lain di Jateng seakan-akan tidak diperhatikan.Sampai tulisan ini kami buat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar