Kamis, 27 Januari 2011

HUBUNGAN ISLAM DAN BARAT

Peristiwa pengeboman gedung WTC pada 11 September 2001, semakin mempertegas dikotomi antara Islam dan Barat.Padahal, keduanya merupakan peradaban yang diperhitungkan dalam mendukung kemajuan dunia global.


Berbicara menganai Islam dan Barat, orang sering membandingkan sekaligus mempertandingkan antara keduanya.Kalau kita kaji, antara Islam dan Barat merupakan dua entitas yang berbeda.Sehingga, perbandingan ini terkesan rancu dan kurang sesuai.


Islam adalah agama, sedangkan Barat adalah bangsa (setidaknya, dipersepsikan sebagai bangsa).Istilah pertama, muncul karena faktor '' idealita '', yang membentuk realita, sebagai peradaban kemanusiaan, yakni agama.Islam sebagai agama dan peradaban, sebagaimana agama-agama yang lain, terbentuk karena tuntutan dasar manusia yang tidak dapat dilepaskan dengan kebutuhan rohani.Kebutuhan ini berasal dari kesadaran manusia akan kondisi keterbatasannya.Maka, menurut Komarodin Hidayat, muncul dalam ide atau pikiran manusia akan adanya kekuatan yang maha hadir (Omni Present) dan tak terbatas, yaitu Tuhan.Agama, sebagai jalan dalam mendekatkan diri kepada Tuhan.


Sedangkan Barat, terbentuk sebagai '' realita '', yang didasarkan pada posisi geografis keberadaannya.Dikatakan Barat karena memang letaknya, berlawanan arah dengan timur.Namun begitu, penamaan berdasarkan posisi geografis ini, telah membentuk konsep dan menjadi '' identitas '' bangsa.Barat, digunakan untuk menyebut, bangsa-bangsa yang berada di wilayah Amerikan dan Eropa.


Islam dapat melekat ke mana saja, termasuk ke Barat atau yang lain, tanpa harus dibatasi geografis.Sedangkan Barat, akan tetap berada di sana, terbatas oleh geografis.Bangsa Barat juga ada yang beragama Islam, sehingga Islam bisa berada di Barat.Dengan kata lain, Barat bisa berlaku sebagai '' Subyek '' , sedangkan Islam, berlaku sebagai '' Objek ''.


Secara teoritis, Islam yang adalah agama, akan lebih tepat bila disandingkan dengan agama lain, misalnya, Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha dan lain-lain.Sedangkan Barat, sebagai bangsa, akan lebih tepat bila disandingkan dengan bangsa-bangsa lain, seperti Rusia, China, Korea Utara dan lain sebagainya.


MELIHAT FAKTA SEJARAH

Untuk memudahkan pemahaman, kita tetap menggunakan istilah Islam dan Barat, yang terlanjur salah kaparah.Pembahasan yang membandingkan antara Islam dan Barat, lebih dipengaruhi oleh faktor sejarah.Pandangan yang masih menganggap bahwa Barat adalah Yahudi dan Nasrani, sedangkan timur adalah Islam, pada akhirnya membentuk wacana baru.Yang kemudian dirumuskan oleh Smuel P.Huntington dalam bukunya yang berjudul, '' Clash Of Civilizations ''.Huntington menganggap antara Islam dan Barat sebagai dua peradaban yang berbeda sekaligus bersaing, dan suatu ketika dapat terjadi konflik.Huntington memandang Islam secara simplifikasi, meskipun hal ini pernah dibantah langsung oleh Gus Dur, ketika keduanya bertemu di Jepang.Gus Dur mengatakan, bahwa pandangan Huntington mengenai Islam masih bersifat parsial dan bias.Atau, Islam dipandang sebatas sebagai teroris dan kelompok-kelompok radikal.


Memburuknya hubungan antara Islam dan Barat, lebih dikarenakan ketakutan masing-masing pihak.Barat menganggap Islam yang militan akan menjadi ancaman pasca Komunisme.Revolusi Iran 1979 membuktikan kalau Islam merupakan rival politik yang dapat mengancam.Sedangkan Islam menganggap Barat selalu menerapkan pola ekspansionismenya.Umat Islam khawatir apabila modernisme, sekulerisme dan liberalisme yang dikembangkan Barat, mengancam budaya kesucian mereka.


Dalam artikel berjudul, '' Merumuskan Ulang Hubungan Islam dan Barat '', yang dimuat situs Jaringan Islam Liberal, Abd Malik Usman menjelaskan, bukan saatnya lagi mendikotomikan antara Islam dan Barat, baik secara ideologi maupun politik.Karena peradaban global memerlukan keduanya.Dikotomi ini dapat diakhiri dengan melihat keduanya dalam bingkai dialektika peradaban kemanusiaan.Tidak ada dialektika yang memaksakan satu peradaban terhadap peradaban lain serta menguasainya.Lebih lanjut, Abd Malik Usman menjelaskan, dialektika tersebut akan berhasil dilaksanakan dengan beberapa catatan.Pertama, Barat harus memaklumkan peradabannya sebagai peradaban universal yang diabdikan bagi kemanusiaan.


Kedua, Barat harus mengurangi arogansinya dalam bidang politik, ekonomi, militer serta harus menghargai kemerdekaan dan kemandirian suatu bangsa.Ketiga, Barat harus merekonstruksi pandangan terhadap Islam, seperti yang dicontohkan beberapa intelektualnya.


Di lain sisi, Islam harus mau membuka diri untuk berdialog dengan Barat supaya tidak terjebak dengan kebesaran masa lampau.Dan Islam juga harus mau menjadi bagian yang ingin menciptakan perdamaian global.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar